Penjelasan Ust. Sarwat Tentang SYIAH di Indonesia

Zezen Zaini Nurdin Selasa, 03 Januari 2012

Upss Jumlah Pelajar Kita di Iran Melebihi
di Al-Azhar!!

Tidak kurang dari 7.000-an mahasiswa
Indonesia diperkirakan sedang dan telah
belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak untuk menjadi
pendukung Syiah. Kabar ini dikemukakan
oleh salah seorang anggota DPR Komisi
VIII, Ali Maschan Musa, termuat di www.republika.co.id dengan link http:// www.republika.co.id/berita/breaking-news/
nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-
belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-
syiah. Padahal sewaktu kemarin ada evakuasi
besar-besaran mahasiswa Indonesia di
Mesir, ternyata jumlah mereka hanya
sekitar 4.000-5.000 orang saja. Kalau yang
kuliah ke Iran sampai angka 7.000, berarti
ini bukan angka yang main-main. “Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu
dengan beberapa anak-anak Indonesia di
sana yang belajar Syiah. Mereka nanti
minta di Indonesia punya masjid sendiri
dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat
dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di
ruang rapat Komisi VIII DPR, Jakarta,
Kamis (3/3). Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan,
Indonesia akan diramaikan oleh demam
paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5
tahun ke depan, tentu mereka akan kembali
ke Indonesia dengan membawa paham
yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia
yang nota bene ahli sunnah wal jamaah. Perkembangan Syiah di Indonesia Sebenarnya untuk melihat hasil dari
`kaderissasi` pemeluk syi`ah di Indonesia,
tidak perlu menunggu beberapa tahun ke
depan. Sebab data yang bisa kita
kumpulkan hari ini saja sudah biki kita
tercengang dengan mulut menganga. Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di
negeri kita ini diam-diam terus bekerja
siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya,
ada begitu banyak agen-agen ajaran syi`ah
yang siap merenggut umat Islam Indonesia
untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran ini. Iranian Corner di Perguruan Tinggi Islam Perkembangan Iranian Corner di Indonesia
khususnya Perguruan Tinggi cukup marak.
Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas
Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Jogjakarta
sebagai kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas
Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan,
Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian
Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di
Universitas Muhammadiyah Malang. Islamic Cultural Center (ICC) Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat
kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic
Cultural Center), berdiri sejak 2003 di
bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC
itulah didirikannya Iranian Corner di 12
tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu. Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu
adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah
seorang Ketua MUI -Majelis Ulama
Indonesia Pusat) dan Prof Quraish Shihab
(mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin
Rakhmat, Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin
atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-
Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus. Undangan Cuci Otak ke Iran Siapa yang menolak kalau diundang jalan-
jalan ke luar negeri. Buat banyak orang di
negeri kita, jalan-jalan ke luar negeri
memang sudah jadi demam tersendrii, tidak
terkecuali para anggota DPR. Nah, sifat norak dan kampungan seperti itu
juga dimanfaatkan oleh Iran untuk
memberikan jalan-jalan gratis ke pusat-
pusat pengajaran Syi`ah di Iran. Sudah
tidak terhitung tokoh Islam Indonesia yang
diundang untuk berkunjung ke Iran, tentu saja judulnya bukan cuci otak, tetapi atas
nama studi banding dan sejenisnya. Namun rata-rata tokoh yang sudah pernah
diundang kesana, begitu pulang bicaranya
penuh pembelaan kepada Syi`ah, bahkan
ada yang menganggap perbedaan Syi`ah
dengan Sunni bukan perbedaan prinsipil
dan sebagainya. Tanpa malu-malu mereka telah menjilat Iran, padahal negeri itu
adalah pembantai ulama-ulama Sunni,
bahkan penghancur masjid-masjid dan
kitab-kitab rujukan Sunni. Beasiswa Pelajar ke Iran Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi
bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini
diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa
Indonesia yang dibelajarkan di Iran,
disamping sudah ada ribuan yang sudah
pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan
sebagainya. Sekembalinya ke tanah air, para lulusan
Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah
dengan membuka majelis taklim, yayasan,
sekolah, hingga pesantren. Di antaranya Ahmad Baraqbah yang
mendirikan Pesantren al-Hadi di
Pekalongan (sudah hangus dibakar massa),
ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan
Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih
puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan,
dan Sulawesi. Yayasan, Pengajian dan Ikatan Penyebar
Aqidah Syi`ah Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 36
yayasan Syi`ah di Indonesia. Dan tidak
kurang dari 43 kelompok pengajian yang
intensif menanamkan aqidah syi`ah sudah
berdiri. Berikut data-data syiah di indonesia
yang untuk saat ini bisa kami himpun a. Yayasan
1. Yayasan Fatimah, Condet, Jakarta.
2. Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta.
3. Yayasan Al-Aqilah.
4. Yayasan Ar-Radhiyah.
5. Yayasan Mulla Shadra, Bogor. 6. Yayasan An-Naqi.
7. Yayasan Al-Kurba.
8. YAPI, Bangil.
9. Yayasan Al-Itrah, Jember.
10. Yayasan Rausyan Fikr, Jogya.
11. Yayasan BabIIm, Jember. 12. Yayasan Muthahhari, Bandung.
13. YPI Al-Jawad, Bandung.
14. Yayasan Muhibbin, Probolinggo.
15. Yayasan Al-Mahdi, Jakarta Utara.
16. Yayasan Madina Ilmu, Bogor.
17. Yayasan Insan Cita Prakarsa, Jakarta. 18. Yayasan Asshodiq, Jakarta Timur.
19. Yayasan Babul Ilmi, Pondok Gede.
20. Yayasan Azzahra Cawang.
21. Yayasan Al-Kadzim.
22. Yayasan Al-Baro`ah, Tasikmalaya.
23. Yayasan 10 Muharrom, Bandung. 24. Yayasan As Shodiq, Bandung.
25. Yayasan As Salam, Majalengka.
26. Yayasan Al Mukarromah, Bandung.
27. Yayayasan Al-Mujataba, Purwakarta.
28. Yayasan Saifik, Bandung.
29. Yayasan Al Ishlah, Cirebon. 30. Yayasan Al-Aqilah, Tangerang.
31. Yayasan Dar Taqrib, Jepara.
32. Yayasan Al-Amin, Semarang.
33. Yayasan Al-Khoirat, Jepara.
34. Yayasan Al-Wahdah, Solo.
35. Yayasan Al-Mawaddah, Kendal. 36. Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo.
37. Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo.
38. Yayasan Al-Mahdi, Jember.
39. Yayasan Al-Muhibbiin, Probolinggo.
40. Yayasan Attaqi, Pasuruan.
41. Yayasan Azzhra, Malang. 42. Yayasan Ja’far As-Shadiq, Bondowoso.
43. Yayasan Al-Yasin, Surabaya.
44. Yapisma, Malang.
45. Yayasan Al-Hujjah, Jember.
46. Yayasan Al-Kautsar, Malang.
47. Yayasan Al-Hasyim, Surabaya. 48. Yayasan Al-Qoim, Probolinggo.
49. Yayasan Al-Kisa`, Denpasar.
50. Yayasan Al-Islah, Makasar.
51. Yayasan Paradigma, Makasar.
52. Yayasan Fikratul Hikmah, Jl Makasar.
53. Yayasan Sadra, Makasar. 54. Yayasan Pinisi, Makassar.
55. Yayasan LSII, Makasar.
56. Yayasan Lentera, Makassar.
57. Yayasan Nurtsaqolain, Sulawesi
Selatan.
58. Yas Shibtain, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
59. Yayasan Al-Hakim, Lampung.
60. Yayasan Pintu Ilmu, Palembang.
61. Yayasan Al-Bayan, Palembang.
62. Yayasan Ulul Albab, Aceh.
63. Yayasan Amali, Medan. 64. Yayasan Al-Muntadzar, Samarinda.
65. Yayasan Arridho, Banjarmasin.
66. Yayasan Al-Itrah, Bangil. b. Pengajian 1. MT. Ar-Riyahi.
2. Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah.
3. Pengajian Al-Bathul, Cililitan.
4. Pengajian Haurah, Sawangan.
5. Majlis Taklim Al-Idrus, Purwakarta.
6. Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang. 7. MT Al Jawad, Tasikmalaya.
8. Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo. c. Ikatan
1. Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
(IJABI).
2. Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia
(IPABI), Bogor.
3. HPI – Himpunan Pelajar Indonesia-Iran. 4. Shaf Muslimin Indonesia, Cawang .
5. MMPII, Condet.
6. FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok.
7. Himpunan Pelajar Indonesia di Republik
Iran (ISLAT).
8. Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan Sekitarnya
(BKPPI).
9. Komunitas Ahlul Bait Indonesia
(TAUBAT). d. Lembaga
1. Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten.
2. Tazkia Sejati, Kuningan.
3. Al Hadi, Pekalongan.
4. Al-Iffah, Jember.
5. Lembaga Komunikasi Ahlul Bait (LKAB), wadah alumni Qom e. Sekolah dan Pesantren
1. SMA PLUS MUTHAHARI di Bandung
dan Jakarta.
2. Pendidikan Islam Al-Jawad.
3. Icas (Islamic College for Advanced
Studies) – Jakarta Cabang London. 4. Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai
SMP, Jakarta.
5. Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok.
6. Madrasah Nurul Iman, Sorong.
7. Pesantren Al-Hadi Pekalongan.
8. Pesantren YAPI, Bangil. f. PenerbitT
1. Lentera.
2. Pustaka Hidayah.
3. MIZAN.
4. YAPI JAKARTA.
5. YAPI Bangil. 6. Rosdakarya.
7. Al-Hadi.
8. CV Firdaus .
9. Pustaka Firdaus.
10. Risalah Masa.
11. Al-Jawad. 12. Islamic Center Al-Huda.
13. Muthahhari Press/Muthahhari
Papaerbacks.
14. Mahdi.
15. Ihsan.
16. Al-Baqir. 17. Al-Bayan.
18. As-Sajjad.
19. Basrie Press.
20. Pintu Ilmu.
21. Ulsa Press.
22. Shalahuddin Press. 23. Al-Muntazhar.
24. Mulla Shadra . g. Penulis
1. Alwi Husein, Lc.
2. Muhammad Taqi Misbah.
3. O. Hashem.
4. Jalaluddin Rakhmat.
5. Husein al-Habsyi. 6. Muhsin Labib.
7. Riza Sihbudi.
8. Husein Al-Kaff.
9. Sulaiman Marzuqi Ridwan.
10. Dimitri Mahayana h. Majalah - Jurnal
1. Majalah Syi’ar.
2. Jurnal Al-Huda.
3. Jurnal Al-Hikmah.
4. Majalah Al-Musthafa.
5. Majalah Al-Hikmah. 6. Majalah Al-Mawaddah.
7. Majalah Yaum Al-Quds.
8. Buletin Al-Tanwir.
9. Buletin Al-Jawwad.
10. Buletin Al-Ghadir.
11. Buletin BabIIm. i. Radio dan TV
1. IRIB (Radio Iran siaran bahasa
Indonesia).
2. Hadi TV, tv satelite (haditv.com).
3. TV Al-Manar, Libanon, dpt diakses sejak
April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT.
4. Myshiatv.com.
5. Shiatv.net. UNIVERSITAS-UNIVERITAS YANG
DILINK
1. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
2. Politeknik Negeri Jakarta.
3. Sekolah Tinggi Informatika dan
Komputer Indonesia . 4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas.
5. STMIK AKAKOM Yogyakarta .
6. Universitas Gajah Mada.
7. Universitas Pembangunan Nasbional
“Veteran” Jakarta.
8. Universitas Airlangga. 9. Brawijaya University.
10. Universitas Darma Persada Jakarta.
11. Universitas Gunadarma.
12. Universitas Islam Indonesia.
13. Universitas Muhammadiyah Jakarta.
14. Universitas Negri Malang. 15. Universitas Negeri Manado.
16. Universitas Negeri Semarang.
17. Universitas Pendidikan Indonesia.
18. Universitas Pertanian Bogor.
19. Institut Teknologi Nasional Malang.
20. Politeknik Negeri Ujung Pandang. 21. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
22. STIE Nusantara.
23. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
24. Universitas Klabat.
25. Universitas Malikussaleh.
26. Universitas Negeri Makasar. 27. Universitas Sriwijaya.
28. UPN Veteran Jawa Timur. Majelis Ulama Indonesia (MUI) : Syiah
Aliran Sesat Secara resmi sesungguhnya Majelis Ulama
Indonesia telah menegaskan bahwa Syiah
bukan sekedar kelompok biasa, melainkan
sebuah aliran yang telah divonis sesat dan
keluar dari akidah Islam. Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat
Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404
H./Maret 1984 merekomendasikan tentang
faham Syi` ah sebagai berikut : Faham Syi`ah sebagai salah satu faham
yang terdapat dalam dunia Islam
mempunyai perbedaan-perbedaan pokok
dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal
Jama`ah) yang dianut oleh Umat Islam
Indonesia. Perbedaan itu diantaranya : Syi`ah menolak hadis yang tidak
diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan
ahlu Sunnah wal Jama`ah tidak membeda-
bedakan asalkan hadits itu memenuhi
syarat ilmu mustalah hadis.
Syi’ah memandang "Imam" itu ma `sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal
Jama`ah memandangnya sebagai manusia
biasa yang tidak luput dari kekhilafan
(kesalahan).
Syi`ah tidak mengakui Ijma` tanpa adanya
"Imam", sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama` ah mengakui Ijma` tanpa
mensyaratkan ikut sertanya "Imam".
Syi’ah memandang bahwa menegakkan
kepemimpinan/Pemerintahan (imamah)
adalah termasuk rukun agama, sedangkan
Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama`ah) memandang dari segi kemaslahatan umum
dengan tujuan keimamahan adalah untuk
menjamin dan melindungi da`wah dan
kepentingan ummat.
Syi`ah pada umumnya tidak mengakui
kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan,
sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama`ah
mengakui keempat Khulafa` Rasyidin (Abu
Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi
Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi`ah dan Ahlus Sunnah wal
Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama
mengenai perbedaan tentang
"Imamah" (Pemerintahan)" Majelis Ulama Indonesia menghimbau
kepada ummat Islam Indonesia yang
berfaham Ahlus Sunnah wal Jama`ah agar
meningkatkan kewaspadaan terhadap
kemungkinan masuknya faham yang
didasarkan atas ajaran Syi’ah. Hakikat Syi`ah Syiah adalah salah satu aliran aqidah di
tengah umat Islam. Syiah mengikuti Islam
sesuai yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Proporsi
terbesar perbedaan Syiah adalah menolak
kepemimpinan dari tiga Khalifah umat Islam pertama. Dan umat Islam menolak
imam dari Imam Syiah.
Sejarah Kalau kita teliti sejarah, mula munculnya
aliran syiah adalah masalah salah paham
dan selera. Ada beberapa orang yang punya
pandangan politik yang berbeda pada
awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya
masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan. Mereka menginginkan Ali bin Abi Thalib
radiyallahu `anhu menjadi khalifah
pengganti Rasulullah SAW. Sementara
semua shahabat Nabi SAW telah sepakat
membai`at Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu `anhu sebagai khalifah. Karena itu, mereka amat benci pada Abu
Bakar, bahkan juga 2 orang khalifah
berikutnya, Umar bin Al-Khattab dan
Utsman bin Al-Affan radhiyallahu anhuma. Padahal Ali bin Abi Thalib sendiri pun
setuju dan mengakui pemerintahan tiga
orang khalifah itu.Keinginan beberapa
orang itu pada gilirannya sudah terpenuhi
juga, sebab sepeninggal 3 khalifah itu,
akhirnya Ali memang diangkat menjadi khalifah. Seharusnya, sampai disini
masalah sudah selesai. Dan sebenarnya memang masalah sudah
selesai. Sebab keinginan untuk
mendudukkan Ali bin Abi Thalib menjadi
khalifah sudah tercapai, meski sempat
terhambat. Lain Orang Lain Generasi Selewat generasi para shahabat, muncul
berbagai aliran sesat yang tujuannya ingin
merontokkan agama Islam dari dalam. Dan
salah satu cara yang paling mudah adalah
dengan cara memecah-belah persatuan
umat Islam, menghidupkan kebanggaan jahiliyah, semangat kesukuan, fanatisme
kelompok, sikap saling menggugat dan
menjelekkan serta mengungkit-ungkit masa
lalu yang sebenarnya tidak terlalu
dipahami. Lahirlah kemudian generasi baru yang tidak
tahu apa-apa, tetapi habis didoktrin untuk
melakukan semua sifat buruk itu. Salah
satunya adalah mengungkit-ungkit
perbedaan di masa lalu yang sesungguhnya
sudah selesai. Namun ibarat mengali mayat yang sudah dikubur, akibatnya menjadi
sangat fatal. Fitnah dan sikap saling menyelahkan
kembali membara. Bedanya, sekarang
dilakukan oleh generasi yang tidak secara
langsung merasakan nikmatnya
persaudaraan. Mereka lahir dari rahim
kebencian dan terus menerus didoktrin untuk selalu membenci sesama muslim. Sehingga masalah politik yang sudah
dikubur, digali lagi dan berkembang
menjadi serius ketika perbedaan itu
berkembang ke wilayah aqidah dan syariah.
Lalu masing-masing pihak saling
mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad. Inilah yang
sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu. Memang benar bahwa ada sebagian dari
akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir
lagi, bukan hanya oleh kalangan ahli
sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah
pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus
tegas dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat. Contoh Sesatnya Aqidah Syiah Pertama : Menolak Mushaf Utsmani Misalnya mereka yang tidak percaya
kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan
menggunakan mushaf yang konon susunan
yang 100% berbeda. Kalau memang ada
yang begitu, tentu kelompok ini sudah
keluar dari agama Islam secara muttafaqun `alihi Logikanya, karena mereka amat benci pada
sosok Utsman bin Al-Affan radhiyallahu
`anhu. Sementara mushaf Al-Quran yang
kita pakai sekarang ini tidak lain hasil kerja
keras Utsman dan pemerintahannya.
Bahkan tidak sedikit di antara kalangan Syiah yang mengkafirkan Utsman.
Setidaknya, menambahkan julukan
laknatullahi alaihi di belakang nama
Utsman. Maka adanya iasekte-sekte Syiah yang
tidak mau pakai mushaf Utsmani bukan hal
yang mengada-ada. Sayangnya, oleh
sebagian kalangan syiah, fenomena itu
sengaja ditutup-tutupi. Sebab kalau sampai
masalah ini diketahui oleh mayoritas umat Islam yang lain, pasti mereka akan celaka. Kedua : Mengkafirkan Para Shahabat Aqidah sesat yang tidak bisa dipungkiri
kalangan syiah dan ketahuan jelas adalah
sikap mereka yang tegas-tegas
mengkafirkan para shahabat Nabi
ridhwanullahi `alaihim. Termasuk
mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Al-Affan
dan lainnya. Dan satu hal yang menarik untuk dikaji,
bahwa semangat menyatukan syiah dengan
sunni bukannya tidak pernah dilakukan. Dr.
Yusuf Al-Qaradawi adalah salah satu icon
yang bisa disebut sebagai ulama sunni yang
berhusnudzdzan untuk tidak dengan mudah menuduhkan masalah pengkafiran ini. Maka kepada para pimpinan Mula di Iran,
diadakanlah sebuah upaya pendekatan
antara Syiah dan Sunni. Sudah beberapa
kali disepakati agenda pertemuan. Namun
ada satu hal yang nampaknya kecil saja,
tetapi ternyata kalangan Syiah tidak mau mundur setitik pun. Masalah itu adalah
penambahan kata (julukan) laknatulalhi
alaihi (semoga Allah melaknatnya) setiap
menyebut nama para shahabat Nabi SAW. Ternyata kalangan Syiah yang konon mau
duduk bersama tetap memanggap
pelaknatan ini sebagai hal yang prinsip,
dimaan mereka tidak mau berubah setitik
pun. Dalam setiap pertemuan dan
pembicaraan, urusan melaknat para shahabat ini menjadi hal yang tidak pernah
ditinggal. Karuan saja Dr. Yusuf Al-Qaradawi
meradang. Beliau protes besar, katanya mau
duduk bersama, katanya mau cari titik-titik
persamaan, katanya mau cari jalan tengah,
tetapi mengapa masih saja memaki-maki
para shahabat Nabi SAW, bahkan sampai keluar ucapan laknat segala. Dan kalau
urusan sekecil ini saja kalangan Syiah tidak
mau bertoleransi, bagaimana dengan urusan
yang lebih besar. Maka upaya pendekatan syiah sunni itu pun
lagi-lagi kandas di tengah kekerasan sikap
kalangan syiah. Padahal dalam aqidah mayoritas umat
Islam, para shahabat nabi itu mulia dan adil.
Bahkan dari mereka ada 10 orang yang
dijamin masuk surga lewtat hadits yang
shahih. Ketiga : Menuduh Jibril Salah Menurunkan
Wahyu Maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa
dibenarkan. Sungguh keterlaluan menuduh
bahwa malaikat Jibril salah menurunkan
wahyu. Maunya mereka, seharusnya Jibril
menurunkan wahyu kepada Ali bin Abi
Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW. Paham dan kepercayaan yang satu ini
sangat fatal. Sebab hakikatnya bukan
menuduh adanya kesalahan malaikat, tetapi
sudah mengingkati kenabian Muhammad
SAW. Dan ingkar pada kenabian
Muhammad adalah kekafiran. Astaghfirullahal-`adzhim, inna lillahi wa
inna ilaihi rajiun. Tentu sempalan yang sudah sampai keluar
batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi
secara aqidah. Keempat : Kemakshuman Imam 12 Paham syiah yang paling populer adalah
bahwa kepemimpinan umat Islam harus
dibawah 12 orang imam. Semuanya
dianggap makshum dalam arti tidak
mungkin salah atau berbuat dosa. Dan
penetapannya dianggap ketetapan langsung dari Allah berupa wahyu yang turun dari
langit. Semua pempimpin umat Islam dianggap
telah merampas kepemimpinan itu, dan
pada akhirnya harus dikembalikan kepada
imam dari 12 imam itu. Kalangan syiah juga percaya bahwa imam
yang terakhir itu masih hidup walau pun
sudah ada sejak tahun 800 hijriyah. Namun
imam itu sedang menghilang dan akan
muncul lagi di akhir zaman. Republika Online
Fb Ahmad Sarwat
Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar